Dialog diatas yang disampaikan Pak
Habibie kepada Ibu Ainun di hanggar pesawat dengan background seonggok
pesawat pertama buatan Indonesia yang terlihat tak terawat seakan
menyiratkan kelelahannya untuk meneruskan pengabdian dan cita-citanya
membawa bangsa Indonesia sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya di
dunia. Dialog itu seakan membawa Pak Habibie ke akhir dari langkahnya
untuk Republik ini dan melangkah kesamping untuk membagi lebih banyak
hidupnya untuk keluarganya istri dan anaknya, hal yang selama ini telah
banyak dikorbankannya.
Entahlah bagaimana dengan Anda, tapi
adegan ini bisa dibilang adegan yang paling membuat hati saya yang
menontonnya bergemuruh menahan sedih, kesal, marah yang bercampur
menjadi satu. Adegan yang seakan menggambarkan matinya semangat seorang
patriot sejati negeri ini .
Film Habibie dan Ainun yang diangkat dari
buku biografi dengan judul yang sama seakan betul-betul memperlihatkan
dan membuka lebar-lebar mata bangsa ini akan sosok Burhanudin Jusuf
Habibie atau biasa dipanggil Rudi mantan presiden ke-3 Republik
Indonesia, orang paling jenius yang pernah (dan masih, sampai saya
menulis tulisan ini) dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Bila orang banyak melihat film ini dari
sisi romantisme antara Pak Habibie dan Ibu Ainun yang menggambarkan
cinta sejati dan manunggal antara dua insan manusia, saya justru melihat
film ini lebih membuka mata saya akan patriotisme Pak Habibie dalam
mencurahkan hampir seluruh hidup dan kemampuannya untuk memajukan bangsa
Indonesia mengalahkan kemewahan dan kehidupan yang lebih baik yang
seharusnya bisa didapatnya di Jerman daripada berpusing-pusing membangun
negaranya.
Dalam film ini bisa dibilang ada dua
babak cerita, babak pertama menggambarkan perjuangan Pak Habibie dalam
mencurahkan hampir seluruh hidupnya untuk menggapai cita-citanya menjadi
insinyur pembuat pesawat di Jerman sampai akhirnya dipanggil pulang
untuk terjun membangun negaranya Indonesia. Dalam babak ini bisa
dibilang keluarga adalah urusan nomor sekian dari kehidupan Pak Habibie.
Babak selanjutnya menceritakan dimana
akhirnya Pak Habibie merasa selesai (walaupun terpaksa) dengan
sumbangannya untuk negeri ini dan kemudian menjadikan keluarga urusan
nomor satu dalam kehidupannya. Kembali ke keluarganya yang selama ini
selalu setia dan mengerti walaupun menjadi urusan nomor sekian dari
kehidupan Pak Habibie.
Saya bisa dibilang salah seorang pengagum
berat dari Pak Habibie dan mungkin tulisan saya terlihat subyektif
dalam menilai film ini, namun saya kira hampir seluruh masyarakat
Indonesia yang menonton film ini setuju, Pak Habibie adalah Patriot
sejati bangsa ini. Memang ada masa ketika dia harus melepaskan Timor
Timur dari Indonesia setelah ribuan prajurit bangsa ini gugur di sana,
namun bila dilihat lebih luas dan tanpa sedikitpun menghilangkan
kebanggaan pada para prajurit yang gugur disana, tindakan yang diambil
pak Habibie untuk melakukan referendum di Timor Timur memang sudah
seharusnya dilakukan, hal yang kita pun akan menuntut hal yang sama bila
ada di posisi sebagai rakyat Timor Timur.
Namun untuk Anda yang tidak suka melihat
hal patriotisme pak Habibie dalam film ini, sisi romantisme Pak Habibie
dan Ibu Ainun juga satu hal yang bisa menyayat hati setiap orang yang
menontonnya. Terus terang Ibu Ainun juga merupakan salah satu tokoh yang
dikagumi oleh saya, selama ini saya mengenalnya sebagai tokoh yang
selain anggun tapi juga ramah, tapi di film ini saya bisa melihat sisi
lain Ibu Ainun yang lebih luas dimana saya bisa melihat kesabarannya
dalam mendampingi suami dalam situasi yang sesulit apapun, Subhanallah.
Dan ketika sampai pada adegan Ibu Ainun menutup mata saya kira itulah
adegan puncak dimana seluruh gedung bioskop menjadi banjir lautan
airmata.
Reza Rahardian bermain sangat sempurna
memerankan tokokh Pak Habibie, walaupun secara visual ketika Habibie
menjadi tua seharusnya penampilannya bisa lebih menyesuaikan (dibotakin
kepalanya mungkin hehehe… ) . Bunga Citra Lestari juga bermain baik
sebagai Ibu Ainun walaupun tidak bisa dibilang luarbiasa. Satu hal yang
sedikit mengganjal dalam film ini mungkin penampilan Pak Habibie dan Ibu
Ainun yang kurang detail ketika usianya beranjak menua. Bila hal ini
bisa digarap lebih detail mungkin film ini akan menjadi film yang jauh
lebih sempurna.
Tapi diluar semua itu, menurut saya film
ini luar biasa dan wajar kalau sampai saat ini sudah ditonton oleh
jutaan pasang mata warga negara Indonesia tua dan muda bahkan oleh
mereka di kota-kota kecil seperti di Jember dimana saya tinggal saat
ini, dimana biasanya bioskop sepi dan hanya didatangi oleh anak muda
saja.
Terima kasih Pak Habibie dan Ibu Ainun telah mewariskan keteladanan yang hampir musnah di Republik inithanks to http://eginanjar.com/2012/12/28/sinema-habibie-dan-ainun-kala-kita-diajarkan-patriotisme-yang-sesungguhnya/#more-504
Tidak ada komentar:
Posting Komentar