Minggu, 05 Januari 2014

(sinema)railways

Film ini Saya tonton di saluran TV RED di Indovision, dan Saya rekomen film ini untuk ditonton. Kalau liat gambar posternya diatas, pasti udah paham bahwa ini film asal Jepang. Filmnya sendiri sederhana tapi punya pesan moral bagus banget.
Intinya film RAILWAY ini mengungkapkan bahwa tidak ada kata terlambat, walaupun usia kita sudah lanjut, untuk mengejar passion atau apapun yang paling kita ingin kerjakan di kehidupan kita (tentunya yang berguna ya).
Film yang dirilis di tahun 2010 ini di Jepang menceritakan Tsutsui Hajime (diperankan Nakai Kiichi) seorang General Manager usia 49 thn yang sudah mempunyai kedudukan sangat mapan di Perusahaan Listrik Besar di Jepang yang kemudian meninggalkan jabatan dan pekerjaannya itu untuk mengejar impian masa kecilnya untuk menjadi … Masinis Kereta Api. Yup masinis kereta api !!!

Disini diceritakan bagaimana Tsutsui menyampaikan keinginan itu kepada istrinya Yukiko (diperankan Takashima Reiko), yang hebatnya sang istri walaupun sedikit terkejut tapi tetap mendukung impian suaminya itu. Yukiko memahami bahwa suaminya itu memang sangat tergila-gila dengan kereta api.
Dukungan istri atau orang terdekat tentu adalah hal yang sangat penting secara moral bagi Tsutsui untuk mengejar impiannya itu. Singkat cerita Tsutsui kemudian resmi mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai General Manager di perusahaan listrik , tapi bukan berarti kemudian dia bisa langsung menjadi masinis kereta api sesuai impiannya. Tsutsui tetap harus mengikuti pendidikan untuk menjadi masinis kereta api, disinilah ditunjukkan dimana Tsutsui menjadi siswa dengan umur paling lanjut, sementara teman-teman pendidikannya semuanya masih berumur jauh lebih muda kurang lebih 20 tahunan.
Usia lanjut bukan berarti Tsutsui tidak bisa bersaing dengan yang lebih muda, dengan semua semangatnya, Tsutsui mengikuti pendidikan tersebut dengan penuh ketekunan. Sampai akhirnya diakhir pendidikan diumumkan bahwa dirinya lulus dan diterima menjadi seorang masinis kereta api Tsutsui sangat gembira sekali.
Juga diceritakan jika Tsutsui telah menemukan impiannya, teman pendidikannya berusia muda Miyata Daigo ( diperankan Miura Takahiro) yang juga diterima menjadi masinis baru justru tidak bahagia diterima sebagai masinis dan sebenarnya lebih menginginkan menjadi pemain baseball. Disinilah Tsutsui kemudian membimbing Miyata untuk benar-benar mengejar apa yang dia inginkan dan jangan mengerjakan sesuatu karena terpaksa.
 Di film ini juga diperlihatkan bagaimana di Jepang sebuah perusahaan Kereta Api betul-betul disiplin dalam melakukan operasinya, seorang pegawai dituntut mengetahui secara detail dari pekerjaannya. Pengambilan gambar pemandangan Jepang yang benar-benar menarik juga ditampilkan di film ini .
Buat yang sedang mencari passion apa yang diinginkan dalam hidupnya (termasuk Saya ..hehehe..) tentunya film ini bisa menjadi pemicu atau motivasi yang bagus sekali, dan seperti yang dilakukan oleh Tsutsui, tidak ada kata terlambat untuk mengejar passion itu.

17.000 pulau, Ainun! Terhubung dengan transportasi yg murah, aman. Bangsa ini bisa jadi Bangsa yg mandiri!”

Dialog diatas yang disampaikan Pak Habibie kepada Ibu Ainun di hanggar pesawat dengan background seonggok pesawat pertama buatan Indonesia yang terlihat tak terawat seakan menyiratkan kelelahannya untuk meneruskan pengabdian dan cita-citanya membawa bangsa Indonesia sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya di dunia. Dialog itu seakan membawa Pak Habibie ke akhir dari langkahnya untuk Republik ini dan melangkah kesamping untuk membagi lebih banyak hidupnya untuk keluarganya istri dan anaknya, hal yang selama ini telah banyak dikorbankannya.
Entahlah bagaimana dengan Anda, tapi adegan ini bisa dibilang adegan yang paling membuat hati saya yang menontonnya bergemuruh menahan sedih, kesal, marah yang bercampur menjadi satu. Adegan yang seakan menggambarkan matinya semangat seorang patriot sejati negeri ini .
Film Habibie dan Ainun yang diangkat dari buku biografi dengan judul yang sama seakan betul-betul memperlihatkan dan membuka lebar-lebar mata bangsa ini akan sosok Burhanudin Jusuf Habibie atau biasa dipanggil Rudi mantan presiden ke-3 Republik Indonesia, orang paling jenius yang pernah (dan masih, sampai saya menulis tulisan ini) dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Bila orang banyak melihat film ini dari sisi romantisme antara Pak Habibie dan Ibu Ainun yang menggambarkan cinta sejati dan manunggal antara dua insan manusia, saya justru melihat film ini lebih membuka mata saya akan patriotisme Pak Habibie dalam mencurahkan hampir seluruh hidup dan kemampuannya untuk memajukan bangsa Indonesia mengalahkan kemewahan dan kehidupan yang lebih baik yang seharusnya bisa didapatnya di Jerman daripada berpusing-pusing membangun negaranya.
Dalam film ini bisa dibilang ada dua babak cerita, babak pertama menggambarkan perjuangan Pak Habibie dalam mencurahkan hampir seluruh hidupnya untuk menggapai cita-citanya menjadi insinyur pembuat pesawat di Jerman sampai akhirnya dipanggil pulang untuk terjun membangun negaranya Indonesia. Dalam babak ini bisa dibilang keluarga adalah urusan nomor sekian dari kehidupan Pak Habibie.
Babak selanjutnya menceritakan dimana akhirnya Pak Habibie merasa selesai (walaupun terpaksa) dengan sumbangannya untuk negeri ini dan kemudian menjadikan keluarga urusan nomor satu dalam kehidupannya. Kembali ke keluarganya yang selama ini selalu setia dan mengerti walaupun menjadi urusan nomor sekian dari kehidupan Pak Habibie.
Saya bisa dibilang salah seorang pengagum berat dari Pak Habibie dan mungkin tulisan saya terlihat subyektif dalam menilai film ini, namun saya kira hampir seluruh masyarakat Indonesia yang menonton film ini setuju, Pak Habibie adalah Patriot sejati bangsa ini. Memang ada masa ketika dia harus melepaskan Timor Timur dari Indonesia setelah ribuan prajurit bangsa ini gugur di sana, namun bila dilihat lebih luas dan tanpa sedikitpun menghilangkan kebanggaan pada para prajurit yang gugur disana, tindakan yang diambil pak Habibie untuk melakukan referendum di Timor Timur memang sudah seharusnya dilakukan, hal yang kita pun akan menuntut hal yang sama bila ada di posisi sebagai rakyat Timor Timur.
Namun untuk Anda yang tidak suka melihat hal patriotisme pak Habibie dalam film ini, sisi romantisme Pak Habibie dan Ibu Ainun juga satu hal yang bisa menyayat hati setiap orang yang menontonnya. Terus terang Ibu Ainun juga merupakan salah satu tokoh yang dikagumi oleh saya, selama ini saya mengenalnya sebagai tokoh yang selain anggun tapi juga ramah, tapi di film ini saya bisa melihat sisi lain Ibu Ainun yang lebih luas dimana saya bisa melihat kesabarannya dalam mendampingi suami dalam situasi yang sesulit apapun, Subhanallah. Dan ketika sampai pada adegan Ibu Ainun menutup mata saya kira itulah adegan puncak dimana seluruh gedung bioskop menjadi banjir lautan airmata.
Reza Rahardian bermain sangat sempurna memerankan tokokh Pak Habibie, walaupun secara visual ketika Habibie menjadi tua seharusnya penampilannya bisa lebih menyesuaikan (dibotakin kepalanya mungkin hehehe… ) . Bunga Citra Lestari juga bermain baik sebagai Ibu Ainun walaupun tidak bisa dibilang luarbiasa. Satu hal yang sedikit mengganjal dalam film ini mungkin penampilan Pak Habibie dan Ibu Ainun yang kurang detail ketika usianya beranjak menua. Bila hal ini bisa digarap lebih detail mungkin film ini akan menjadi film yang jauh lebih sempurna.
Tapi diluar semua itu, menurut saya film ini luar biasa dan wajar kalau sampai saat ini sudah ditonton oleh jutaan pasang mata warga negara Indonesia tua dan muda bahkan oleh mereka di kota-kota kecil seperti di Jember dimana saya tinggal saat ini, dimana biasanya bioskop sepi dan hanya didatangi oleh anak muda saja.
Terima kasih Pak Habibie dan Ibu Ainun telah mewariskan keteladanan yang hampir musnah di Republik ini

thanks to http://eginanjar.com/2012/12/28/sinema-habibie-dan-ainun-kala-kita-diajarkan-patriotisme-yang-sesungguhnya/#more-504

Mengenang 99 Cahaya (Yang Pernah Ada) Di Langit Eropa

“Di mana jalan pulang? Laut berada di belakang kalian. Musuh di hadapan kalian. Sungguh kalian tidak memiliki apa-apa kecuali sikap benar dan sabar. Musuh-musuh kalian sudah siaga di depan dengan persenjataan mereka. Kekuatan mereka besar sekali. Sementara kalian tidak memiliki bekal lain kecuali pedang, dan tidak ada makanan bagi kalian kecuali yang dapat kalian rampas dari tangan musuh-musuh kalian. Sekiranya perang ini berkepanjangan, dan kalian tidak segera dapat mengatasinya, akan sirnalah kekuatan kalian. Akan lenyap rasa gentar mereka terhadap kalian. Oleh karena itu, singkirkanlah sifat hina dari diri kalian dengan sifat terhormat. Kalian harus rela mati. Sungguh saya peringatkan kalian akan situasi yang saya pun berusaha menanggulanginya. Ketahuilah, sekiranya kalian bersabar untuk sedikit menderita, niscaya kalian akan dapat bersenang-senang dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, janganlah kalian merasa kecewa terhadapku, sebab nasib kalian tidak lebih buruk daripada nasibku… PERANG ATAU MATI!” -Thariq bin Ziyad-
 
Pidato diatas mungkin tak banyak generasi muda muslim yang mengetahuinya. Nama Thariq bin Ziyad pun seakan nama antah berantah untuk generasi muda muslim saat ini dibandingkan Justin Bieber ataupun para bintang K-Pop yang aduhai :p , tapi sekiranya mau meluangkan sedikit waktu saya yakin pastilah akan memberi kebanggaan yang luar biasa bagi ummat muslim yang mengetahuinya.
Ya … itu adalah pidato dari salah seorang Panglima Islam pada tanggal 19 Juli tahun 711, Panglima yang bernama Thariq bin Ziyad ketika beliau dengan 7000 orang pasukannya mendarat di benua Eropa, tepatnya di Gibraltar, Spanyol dalam perjalanannya untuk memperluas syiar Islam pada masa itu.
Pidato Thariq tersebut mampu membakar semangat 7000 pasukan muslim untuk bertempur dan mengalahkan 1oo.000 pasukan Raja Frederico dari Spanyol untuk kemudian menegakkan panji-panji Islam di benua eropa selama lebih dari 300 Tahun sesudahnya .. ya benar 300 TAHUN ISLAM PERNAH BERKUASA DI EROPA !!!
Periode 300 Tahun tentu bukan masa yang pendek, bahkan Amerika Serikat saja yang sudah demikian panjang sejarahnya baru berusia 180 tahunan.
Tapi apakah ummat islam saat ini mengetahui hal tersebut ??? Tak banyak ummat islam yang tahu hal itu. Dimusnahkannya hampir seluruh jejak kejayaan Islam disana serta dominasi Barat setelah masa itu untuk meredam kisah-kisah yang ada memang sukses membuat bahkan ummat Islam sendiri tidak mengetahuinya.
Hanum Salsabiela Rais bersama suaminya, Rangga Almahendra seakan menyalakan kembali cahaya Islam yang pernah ada di Eropa itu, dengan novelnya yang berjudul ”99 Cahaya Di Langit Eropa” yang juga menceritakan pengalaman mereka ketika tinggal di benua biru tersebut.
Walau tidak bercerita mengenai Thariq Bin Ziyad secara detail namun Hanum dan Rangga dengan bahasa yang mampu diterima oleh generasi muslim masa kini mampu membuka mata tentang kejayaan masa lalu Islam di Eropa itu. Tentang jubah-jubah para Raja Eropa yang berkaligrafi Arab,tentang lukisan Bunda Maria dengan kaligrafi nama Allah dan Nabi Muhammad SAW sampai Garis Imajiner di Kota Paris yang mengarah ke arah kiblat…. SUBHANALLAH !!!
Novel yang kemudian diangkat menjadi Film tersebut memang makin memperluas untuk membuka mata ummat Islam. Sejarah yang sudah seharusnya diketahui oleh ummat. Tentang peradaban 300 tahun yang pernah ada di dunia dan mampu menerangi Eropa dari masa kegelapannya namun seakan terlupakan saat ini, bahkan oleh ummat Islam sendiri.
Hanum dan Rangga telah memulainya, alangkah lebih baiknya hal ini terus digali lebih dalam lagi dan terus disebarluaskan, sehingga setidaknya sejarah dapat disampaikan dengan seterang-terangnya kepada generasi muslim berikutnya. Semoga.

thanks to http://eginanjar.com/2013/12/26/mengenang-99-cahaya-yang-pernah-ada-di-langit-eropa/#more-574